Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Rabu, 12 Mei 2010

SEJARAH TERJADINYA KOTA SINGARAJA

KEBERADAAN Kota Singaraja tak terlepas dari sosok Raja Buleleng Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Ketokohan putra genetis Raja Bali Dalem Sagening yang berpuri di Gelgel, Klungkun ini menorehkan sejarah berdirinya Kota Singaraja. Beliau yang lahir dari seorang wanita asal Desa Panji Buleleng, Si Luh Pasek pada tahun 1550 masehi sempat “dibuang� ke DenBukit (Buleleng). Ketekunan, kesabaran, keyakinan dan kesucianlah yang menghantarkan beliau menjadi sosok Waskita (Waspada Kinasih Tapa).
Beliau adalah raja yang sejati, yaitu raja pilihan rakyat. Semasa kecil hingga remaja, Ki Barak berpuri di Desa Panji. Setelah terbukti beliau mempunyai :�kelebihan� maka rakyat mengangkat beliau menjadi Raja Denbukit dan abiseka Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Pada masa awal pemerintahannya beliau membangun Puri di Sukasada. Kerajaan Blangbangan di Jawa Timur berhasil beliau tundukkan pada ekspedisi I Tahun 1950. Bahkan seorang putra beliau yakni Ki Gusti Panji Gede dinobatkan menjadi Raja Blambangan menggantikan Pangeran Mas Tawang Alun pada tahun 1591 masehi. Pada masa ekspedisi II ketika mengatasi pemberontakan para pengikut setia Tawang Alun, mengalami kegagalan, bahkan putra beliau Ki Gusti Nyoman Danuresta tewas. Ekspedisi III tahun 1560 Masehi gabungan Denbukit, Mengwi, Jembrana berhasil mematahkan pembalasan putra Tawang Alun yaitu Pangeran Mas Sedah dan Pangeran Mas Pahit. Pada 30 Maret 1604 beliau mulai mendirikan Kota Singaraja. Peristiwa yang menorehkan sesaudan (sesangi, punagi) adalah ketika beliau bersama para prajurit kembali dari Ekspedisi III. Saat melintasi perairan Selat Bali, tiba-tiba terjadi badai. Alam pun gelap gulita. Untuk beberapa lama pelayaran tidak tentu arah. Khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka sebagai seorang yang waskita mesesaudan-lah beliau, memohon kemurahan Ida Bhatara agar beliau beserta laskar selamat sampai di tujuan. Tiba-tiba cahaya terang menyorot dari atas Bukit Pucak Sinunggal yang terletak di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Cahaya Mahasuci Ida Bhatara Dewa Agung Manik Asta Gina yang berstana di Pura Pucak Sinunggal itulah yang menuntun beliau bersama Laskar Goak hingga menepi di Pantai Segara Penimbangan Panji dan selamat sampai di Puri Sukasada. ‘’Sesaudan beliau adalah akan menghanturkan 6 ekor Kebo Metanduk Emas ke hadapan Iba Bhatara ring Pucak Sinunggal,’’ ucap Ketua Panitia Taur Agung, Drs. Made Suyasa, M.Si yang juga Camat Kubutambahan didampingi Penglisir Puri Anyar Sukasada, I Gusti Ngurah Agung Dharmada. Sebanyak satu ekor sudah pernah dihaturkan oleh Bupati Buleleng, Drs, Ketut Wirata Sindhu pada hari Rabu 19 Maret 1997 serangkaian HUT Kota Singaraja ke 393 yang jatuh pada tanggal 30 Maret. ‘’Kini ketika melints waktu 4 abad semenjak sesaudan itu berkumandang, lewat berbagai penelusuran terungkaplah dengan jelas bahwa masih ada 5 ekor kerbau lagi yang belum dihaturkan,’’ imbuhnya. Guna menuntaskan kaul Raja Buleleng Ki Gusti Ngurah Anglurah Panji Sakti agar selamanya sesaudan beliau terlupakan, maka pihak Puri berkoordinasi dengan Pemkab Buleleng dan pemkab pun menyambut koordinasi itu sehingga upacara Tawur Agung Saud Atur Panji Sakti ini bisa terlaksana pada tanggal 3 Oktober 2009 mendatang. Dalam prosesinya, lima ekor Kebo Metanduk Emas ini akan diarak dari Desa Panji menuju Pura Bukit Pucak Sinunggal dengan melewati kain putih sepanjang 33,3 kilometer. (bin)

0 komentar:

Poskan Komentar